Sunday, March 20, 2016

28 Februari



''Ribet, satu kata yang aku tau pagi itu. Pagi yang cukup cerah memang, panas, dan mungkin benar-benar panas. Kami janjian akan bertemu, di tempat pertama kali kami saling menatap dan jatuh cinta, jalanan macet, tangan dingin, udara semakin mencekik untukku didalam angkutan umum yang berdesakan, bau keringat kanan kiri, ya memang itu yang aku harus aku jalani pagi itu. berjuang melawan penat tengah kota untuk sekedar bertatap muka, bertemu saling melempar senyum dan berjabat tangan tanda pertemuan, sampai di tempat itu aku panik, tangan basah keringat, kaki berat melangkah, sedia cermin untuk memastikan keadaan wajah masih dalam keadaan baik dan tidak memalukan. ya, aku terus melangkah mencari sesosok laki-laki yang aku pastikan wajahnya mirip dengan foto, aku berlari kecil karena sudah membuatnya terlalu lama menunggu bahkan mungkin mulai curiga aku tidak hadir, tapi aku hadir dengan ekspresi wajah yang panik karena mencari sambil berlari. Aku menemukan sesosok laki-laki yang wajahnya mirip di foto, syukurlah ucapku, saat itu dia mulai melempar senyum, mungkin kekecewaannya terbayar dengan melihatku hadir untuknya. kami berjabat tangan, pertama kali dalam hidupku aku menjabat tangan yang hangat dan menentramkan. Kami memutuskan pergi ke suatu tempat yang pasti akan menjadi tempat kenangan yang tidak akan pernah aku lupakan seumur hidupku, keretalah yang akhirnya menjadi pilihan kami untuk menuju tempat tersebut, kereta adalah hal pertama yang membuat kami semakin dekat, walau saat itu aku hanya sedikit mengenalnya lewat pembicaraan-pembicaaran kecil yang mungkin tidak berarti. Jujur hatiku sempat tidak merasa nyaman karena aku berjalan dengan seseorang yang sangat asing, namun dia sesekali tersenyum, senyum yang membuatku merasa menjadi sangat mengenalnya, terimakasih Tuhan jika memang senyum ini akan selalu ku lihat dalam hari-hariku, aku berbisik dalam hati. sesampai kami, aku berjalan sepanjang trotoar jalan merasakan hari itu berubah menjadi hari yang hangat dan menyenangkan, kami berjalan berdampingan mungkin kami berdua tidak sadar telah sejauh itu, yaa tangan kami saling bertautan tanpa tahu siapa yang memulai. Hariku berubah menjadi hari yang manis, tanpa aku sadar pertemuan ini mungkin akan menjadi pertemuan yang indah dalam hidupku. Benar firasatku, hari itu menjadi hari pertama kami saling melupakan masalalu yang buruk, hari pertama kami mulai melihat masa depan, hari pertama kami bangkit dari kesepian yang memuakan.'' 

sepenggal cerita tentang kami pada hari pertama pertemuan, sampai detik ini kami masih bersama, perasaan yang ku miliki untuknya mungkin akan terus bertambah setiap harinya, sesesosok laki-laki yang pertama kali datang dengan komitmen dalam hidupku, walau kata komitmen itu belum terucap namun aku yakin dia benar, terimakasih karena sudah menerima seluruh kekuranganku, menerima kebodohanku, menerima keangkuhanku, menerima seluruh keegoisanku, aku bersyukur dan berterimakasih dengan waktu, waktu yang telah menjawab semua pertanyaanku, seluruh pertanyaan yang ternyata jawabannya adalah kamu. Kadang aku marah, kadang aku kecewa, kadang aku menangis mengapa aku bisa mengenalmu, namun saat ini aku merasa menjadi seorang wanita paling bersyukur di dunia karena telah bertemu denganmu, menjadi wanita terkuat di dunia karena dikuatkan olehmu, menjadi wanita terbahagia di dunia karena di bahagiakan kamu. Terimakasih untuk sepenggal cerita kenangan terindah yang akan selalu aku catat dalam bagian memori otakku yang tidak akan mudah aku lupakan semudah melupakan rumus matematika. Sampai kapanpun dan sebanyak apapun aku mengungkapkan cinta, semua itu tidak akan bisa menggambarkan kebahagiaanku karena kami telah dipertemukan Tuhan.