
Dalam postingan kali ini saya akan membahas mengenai salah satu produk budaya Indonesia yang sangat terkenal dan sudah dekat dengan kehidupan sehari-hari. postingan yang saya buat ini merupakan analisis dan juga tambahan dari beberapa refrensi di Internet yang saya baca. semoga kita dapat melestarikan budaya nenek moyang agar tetap eksis dan tidak termakan zaman.
Jamu
tradisional khas Indonesia adalah minuman tradisional yang terbuat dari ramuan
tumbuh-tumbuhan, dibuat secara tradisional dan dipercaya dapat menyehatkan
tubuh, meremajakan kulit dan menyembuhkan penyakit. Ramuan jamu yang berasal
dari daerah Jawa ini sangat terkenal dikalangan masyarakat baik masyarakat
modern maupun masyarakat tradisional. Jamu tradisional sering kita lihat dijual
dengan botol-botol yang berisi ramuan jamu yang dipanggul oleh seorang wanita,
baik wanita muda maupun wanita yang sudah lanjut usia yang biasanya memakai
kebaya dan jarik yang merupakan tradisi Jawa. Jamu tradisional jenis ini sudah
dikenal sebagai ‘’jamu gendong’’. Jamu gendong sudah sangat terkenal bagi semua
kalangan masyarakat Indonesia. Bagi orang Indonesia, jamu gendong dapat
dikatakan sebagai identitas bangsa, karena keberadaannya sudah ada sejak dahulu
kala dan masih dilestarikan sebagai salah satu budaya Indonesia secara
turun-temurun. Jamu gendong menjadi sebuah identitas bangsa karena
keberadaannya sangat mencirikan bangsa Indonesia, karena ke-tradisionalannya
yang khas dengan seorang wanita yang menggunakan kebaya jawa dan ramuan yang
rempah-rempahnya mungkin hanya dapat di temukan di Indonesia. Namun seiring
berjalannya waktu, kini jamu gendong sudah mulai berkurang keberadannya.
Menurut saya jamu gendong adalah
sebuah warisan nenek moyang yang tidak boleh punah keberadaannya, karena cara
penjualannya yang benar-benar tradisional dengan hanya menggunakan bahan-bahan
alami tanpa penambahan zat aditif kimia didalamnya dan tentu rasanya yang unik.
Tapi saat ini, jamu gendong sudah mengalami modernisasi dalam cara pengolahan
dan penjualan. Saya melihat bahwa jamu-jamu sudah diolah dengan mesin-mesin
canggih dan dikemas dengan kemasan yang menarik. Jamu tradisional ini juga
tidak hanya dijual di pasar –pasar tradisioal saja namun sudah dapat kita
temukan di pusat-pusat perbelanjaan besar yang modern. Kita sebagai bangsa
Indonesia yang kaya akan warisan budaya patut berbangga menjadikan jamu gendong
sebagai warisan yang tidak boleh lekang oleh waktu. Saat ini, saya mendengar
bahwa pemerintah sudah mengupayakan agar jamu gendong dapat menjadi warisan
budaya dunia dengan meminta pengakuan UNESCO. Saya memilih untuk membahas jamu
gendong karena jamu ini adalah salah satu produk budaya yang sangat saya gemari
sedari kecil hingga saat ini. Mungkin sudah banyak juga masyarakat yang tidak
menyadari dan ingat akan keberadaan jamu gendong yang sebenarnya sudah sangat
mengakar dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain identitas bangsa, jamu
gendong juga dapat menggambarkan sebuah etnis yaitu etnis Jawa karena memang
jamu gendong berasal dari wilayah jawa dan istilah jamu itu sendiri diambil
dari bahasa Jawa Kuno dan keberadannya sudah ada pada zaman dahulu dapat
dibuktikan pada relief candi Borobudur yang terletak di Yogyakarta. Menurut
saya mengapa jamu ditemukan sudah sangat lama karena dulu wilayah Indonesia
yang sangat potensial akan keanekaragaman hayati yang sangat melimpah dan
kemungkinan orang-orang zaman dahulu memanfaatkannya agar dapat berguna bagi
tubuh dan sebagai obat penyembuh karena belum ada tekhnologi canggih yang dapat
membuat obat-obatan. Namun pada awalnya jamu diperkenalkan oleh dukun atau
tabib-tabib keraton yang akan menyembuhkan orang, sangat lama sudah jamu ini
telah ada di bumi pertiwi ini, kita seharusnya menyadari dan bisa melestarikan
apa yang sudah menjadi kebiasaan bangsa Indonesia yang seharusnya. Sebagai
rakyat yang cinta akan negara dan budaya sudah sangat harus kita
melestarikannya serta mendukung penuh budaya ini agar tetap ada dan tidak punah
termakan zaman. Bukan dengan hanya diam dan menyaksikan namun mencoba untuk
memperkenalkan, mengonsumi dan bangga dengan keberadaannya.
Refrensi :
http://jamuindonesia
.com/shop/index.php?route=news/article&news_id=15
No comments:
Post a Comment