Thursday, November 3, 2016

JAMU GENDONG WARISAN KESEHATAN BANGSA







            Dalam postingan kali ini saya akan membahas mengenai salah satu produk budaya Indonesia yang sangat terkenal dan sudah dekat dengan kehidupan sehari-hari. postingan yang saya buat ini merupakan analisis dan juga tambahan dari beberapa refrensi di Internet yang saya baca. semoga kita dapat melestarikan budaya nenek moyang agar tetap eksis dan tidak termakan zaman.

            Jamu tradisional khas Indonesia adalah minuman tradisional yang terbuat dari ramuan tumbuh-tumbuhan, dibuat secara tradisional dan dipercaya dapat menyehatkan tubuh, meremajakan kulit dan menyembuhkan penyakit. Ramuan jamu yang berasal dari daerah Jawa ini sangat terkenal dikalangan masyarakat baik masyarakat modern maupun masyarakat tradisional. Jamu tradisional sering kita lihat dijual dengan botol-botol yang berisi ramuan jamu yang dipanggul oleh seorang wanita, baik wanita muda maupun wanita yang sudah lanjut usia yang biasanya memakai kebaya dan jarik yang merupakan tradisi Jawa. Jamu tradisional jenis ini sudah dikenal sebagai ‘’jamu gendong’’. Jamu gendong sudah sangat terkenal bagi semua kalangan masyarakat Indonesia. Bagi orang Indonesia, jamu gendong dapat dikatakan sebagai identitas bangsa, karena keberadaannya sudah ada sejak dahulu kala dan masih dilestarikan sebagai salah satu budaya Indonesia secara turun-temurun. Jamu gendong menjadi sebuah identitas bangsa karena keberadaannya sangat mencirikan bangsa Indonesia, karena ke-tradisionalannya yang khas dengan seorang wanita yang menggunakan kebaya jawa dan ramuan yang rempah-rempahnya mungkin hanya dapat di temukan di Indonesia. Namun seiring berjalannya waktu, kini jamu gendong sudah mulai berkurang keberadannya.
            Menurut saya jamu gendong adalah sebuah warisan nenek moyang yang tidak boleh punah keberadaannya, karena cara penjualannya yang benar-benar tradisional dengan hanya menggunakan bahan-bahan alami tanpa penambahan zat aditif kimia didalamnya dan tentu rasanya yang unik. Tapi saat ini, jamu gendong sudah mengalami modernisasi dalam cara pengolahan dan penjualan. Saya melihat bahwa jamu-jamu sudah diolah dengan mesin-mesin canggih dan dikemas dengan kemasan yang menarik. Jamu tradisional ini juga tidak hanya dijual di pasar –pasar tradisioal saja namun sudah dapat kita temukan di pusat-pusat perbelanjaan besar yang modern. Kita sebagai bangsa Indonesia yang kaya akan warisan budaya patut berbangga menjadikan jamu gendong sebagai warisan yang tidak boleh lekang oleh waktu. Saat ini, saya mendengar bahwa pemerintah sudah mengupayakan agar jamu gendong dapat menjadi warisan budaya dunia dengan meminta pengakuan UNESCO. Saya memilih untuk membahas jamu gendong karena jamu ini adalah salah satu produk budaya yang sangat saya gemari sedari kecil hingga saat ini. Mungkin sudah banyak juga masyarakat yang tidak menyadari dan ingat akan keberadaan jamu gendong yang sebenarnya sudah sangat mengakar dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Selain identitas bangsa, jamu gendong juga dapat menggambarkan sebuah etnis yaitu etnis Jawa karena memang jamu gendong berasal dari wilayah jawa dan istilah jamu itu sendiri diambil dari bahasa Jawa Kuno dan keberadannya sudah ada pada zaman dahulu dapat dibuktikan pada relief candi Borobudur yang terletak di Yogyakarta. Menurut saya mengapa jamu ditemukan sudah sangat lama karena dulu wilayah Indonesia yang sangat potensial akan keanekaragaman hayati yang sangat melimpah dan kemungkinan orang-orang zaman dahulu memanfaatkannya agar dapat berguna bagi tubuh dan sebagai obat penyembuh karena belum ada tekhnologi canggih yang dapat membuat obat-obatan. Namun pada awalnya jamu diperkenalkan oleh dukun atau tabib-tabib keraton yang akan menyembuhkan orang, sangat lama sudah jamu ini telah ada di bumi pertiwi ini, kita seharusnya menyadari dan bisa melestarikan apa yang sudah menjadi kebiasaan bangsa Indonesia yang seharusnya. Sebagai rakyat yang cinta akan negara dan budaya sudah sangat harus kita melestarikannya serta mendukung penuh budaya ini agar tetap ada dan tidak punah termakan zaman. Bukan dengan hanya diam dan menyaksikan namun mencoba untuk memperkenalkan, mengonsumi dan bangga dengan keberadaannya.


Refrensi      :
http://jamuindonesia .com/shop/index.php?route=news/article&news_id=15

No comments:

Post a Comment